Selasa, 30 April 2013

Siklus Estrus Sapi Betina


Siklus reproduksi adalah siklus seksual yang terdapat pada individu betina dewasa seksual dan tidak hamil yang meliputi perubahan-prubahan siklik pada organ-organ reproduksi tertentu misalnya ovarium, uterus, dan vagina di bawah pengendalian hormon reproduksi. Siklus estrus dibagi menjadi berberapa fase yang dapat dibedakan jelas yang disebut proestrus, estrus, metestrus, dan
diestrus
1.      proestrus (prestanding events)
Proestrus merupakan fase sebelum estrus yaitu periode pada saat folikel de graaf tumbuh di bawah pengaruh FSH dari adenohipofisis pituitary dan LH ovari serta  menghasilkan sejumlah Estradiol (estrogen yang paling kuat) yang semakin bertambah yang meningkatkan suplai darah ke saluran kelamin yang menyebabkan meningkatnya perkembangan uterus, vagina, oviduk, dan folikel ovary.
Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya progesteron dan memperluas untuk memulai estrus. Fase proestrus dicirikan dengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen. Peningkatan jumlah estrogen menyebabkan pemasokan darah ke sistem reproduksi untuk meningkatkan pembengkakan sistem dalam. Estrogen yang diserap dari folikel ke dalam aliran darah merangsang peningkatan vaskularisasi dan pertumbuhan sel genital dalam persiapan untuk birahi dan kebuntingan yang terjadi.Kelenjar cervix dan vagina dirangsang untuk meningkatkan aktifitas sekretori membangun muatan vagina yang tebal.. Periode ini ditandai oleh adanya sel-sel ephitelial dengan inti. Sel-sel parabasal dan sel-sel tengah ada dalam jumlah yang besar bersama-sama dengan leukosit dan eritrosit. Pada akhir periode jumlah sel-sel parabasal menurun, sel-sel superfisial ,uncul, jumlah dari eritrosit dan leukosit menurun.
Pada fase ini akan terlihat perubahan pada alat kelamin luar dan terjadi perubahan-perubahan tingkah laku dimana hewan betina berperilaku seksual seperti jantan, berusaha menaiki teman-temannya (homoseksualitas), menjadi gelisah, agresif, dan mungkin akan menanduk, melenguh, mulai mengeluarkan lendir bening dari vulva, serta svulva mulai membengkak. Pada pemeriksaan perektal, sapi-sapi yang proestrus terlihat menciri dengan tonus uteri meningkat, tegang, dan teraba melingkar. Servik mengalami relaksasi gradual dan makin banyak mucus yang tebal. Vulva membengkak, keluar leleran jernih transparan. Ovarium pada fase ini akan teraba corpus albikan yang berasal dari korpus luteum yang mengalami atropi, mengecil dan diganti oleh masa yang menyerupai tenunan pengikat. Corpus albikan ini teraba sangat keras dan kecil. Pada fase ini juga akan teraba folikel de graaf yang tumbuh cepat oleh pengaruh FSH, mulai matang dan akan mencapai puncaknya pada fase estrus dan akhirnya folikel tersebut akan mengovulasikan sebuah ovum pada waktu 10-15 jam
2.      estrus (Standing Heat)
Estrus merupakan periode penerimaan pejantan oleh hewan betina untuk berkopulasi, klimaks fase folikel yang terutama ditentukan oleh tingkat sirkulasi estrogen. Pada produksi estrogen bertambah dan Selama atau segera setelah periode itu terjadilah ovulasi (kecuali pada hewan yang memerlukan rangsangan seksual lebih dahulu untuk terjadinya ovulasi). Pada saat itu, keseimbangan hormon hipofisa bergeser dari FSH ke LH, terjadi penurunan tingkat FSH dalam darah dan penaikan tingkat LH, hormon ini akan membantu terjadinya ovulasi dan pembentukan korpus luteum yang terlihat pada masa sesudah estrus. Proses ovulasi akan diulang kembali secara teratur setiap jangka waktu yang tetap yaitu siklus birahi. Estrus berakhir kira-kira pada pecahnya folikel ovari  atau terjadinya ovulasi. Pemecahan folikel terjadi secara spontan pada kebanyakan spesies hewan. Akan tetapi pada kucing, kelinci, mink, ferret dan beberapa hewan lainnya, pemecahan itu hanya dapat terjadi apabila berlangsung koitus. Karena disebabkan oleh tertundanya refleks neuroendokrin yang melibatkan pelepasan hormon dari pituitari, yang disebabkan oleh stimulasi karena koitus. Maka hal ini disebut juga ovulator refleks Mukosa dari uterus mengembung dan banyak mengandung darah, pada waktu inilah hewan betina, siap untuk menerima hewan jantan.
Pada umumnya memperlihatkan tanda-tanda gelisah,nafsu makan turun atau hilang sama sekali,menghampiri pejantan dan tidak lari jika pejantan menungganginya, diikuti dengan tingkah laku homoseksual, keluarnya cairan yang kental dan bening dari vulva yang menggantung keluar, penigkatan sirkulasi sehingga merah, adanya kemerahan, alat kelamin luar yang hangat serta suara bengah-bengah pada sapi tersebut. Jika dipalpasi perektal maka uterus terasa kontraksi, tegang, mengeras dengan permukaan tidak rata, cervik relaksasi dan pada ovarium terdapat folikel de graaf yang membesar dan sudah matang.
Karakteristik sel pada saat estrus yaitu penampakan histologi dari smear vagina didominasi oleh sel-sel superfisial, tetapi terdapat kornifikasi pada hasil preparat, pengamatan yang berulang menampakkan sel-sel superfisialnya ada yang bersifat anucleate. Sel-sel parabasal dan superfisial mudah untuk dibedakan, sedangkan sel-sel intermediet adalah sel yang terletak diantara sel parabasal dan sel superfisial. pada saat nukleus mengecil, membentuk pyknotic maka sel ini dapat diklasifikasikan pada sel superficial. Perubahan selama estrus :
a. Follicle de Graaf : besar, masak
b. Perubahan Estrogen : menjadi lebih jelas
c. Tuba falopii membengkak, epitel menebal(proximal) dan silia-silianya bergerak aktif
d. Dinding tuba falopii berkontraksi
e. Uterus ereksi, sangat kenyal dan edeematous
f. Lendir dari uterus, vagina dan cervix bertambah banyak
g. Mukosa vagina kemerah-merahan : vascularisasi
h. Cervix lemas dan sedikit oedematous
i. Vulva lemas dan oedermatous pada semua jenis hewan
3.      metestrus (Pasca Birahi / postestrus)
Metestrus ditandai dengan berhentinya puncak estrus dan bekas folikel setelah ovulasi mengecil dan berhentinya pengeluaran lendir. Selama metestrus, rongga yang ditinggalkan oleh pemecahan folikel mulai terisi dengan darah. Darah membentuk struktur yang disebut korpus hemoragikum. Setelah sekitar 5 hari,korpus hemoragikum mulai berubah menjadi luteal,menghasilkan korpus luteum atau Cl. Fase ini sebagian besar berada di bawah pengaruh progesteron yang dihasilkan oleh korpus luteum. Progesteron menghambat sekresi FSH oleh pituitary anterior sehingga menghambat pertumbuhan folikel ovarium dan mencegah terjadinya estrus.Pada masa ini terjadi ovulasi,kurang lebih 10-12 jam sesudah estrus,kira-kira 24 sampai 48 jam sesudah birahi.
Periode ini berlangsung selama 3 – 4 hari setelah birahi, sedikit darah mungkin keluar dari vulva induk atau dara beberapa jam setelah standing heat berakhir. Biasanya 85% dari periode birahi pada sapi dara dan 50% pada sapi induk berakhir dengan keluarnya darah dari vulva (untuk cek silang saat mengawinkan inseminasi harus sudah dilakukan 12-24 jam sebelum keluarnya darah). Keadaan ini disebut perdarahan metestrus (metestrual bleeding), ditandai dengan keluarnya darah segar bercampur lendir dari vulva dalam jumlah sedikit beberapa hari setelah birahi. Perdarahan ini biasanya akan berhenti sendiri setelah beberapa saat. Yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua siklus birahi pada sapi berakhir dengan keluarnya darah. Keluarnya darah tidak selalu berarti ovulasi telah terjadi dan tidak selalu menunjukkan bahwa bila diinseminasi ternak akan bunting atau tidak. Keluarnya darah hanya akan menunjukkan bahwa ternak telah melewati siklus birahi.
Jika dipalpasi rectal menjelang pertengahan sampai akhir metestrus, uterus menjadi agak lunak karena pengendoran otot uterus. Kontraksi uterus intermitten. Folikel sudah mengalami ovulasi. Ovarium akan teraba cekung karena folikel mengalami ovulasi dan terbentuk korpus luteum baru dengan konsitensi menyerupai jantung. Dalam fase metestrus awal, dimana korpus luteum belum terbentuk dan pada ovarium akan teraba ada cekungan bekas ovum yang sudah diovulasikan dari folikel yang sudah matang. Pada fase ini sekresi mukus vagina berkurang dan epithel karunkula uterus hiperemis.
Pada fase metestrus, histologi dari smear vagina menampakkan suatu fenomena kehadiran sel-sel yang bergeser dari sel-sel parabasal ke sel-sel superfisial, selain itu sel darah merah dan neutrofil juga dapat diamati. Sel-sel parabasal adalah sel-sel termuda yang terdapat pada siklus estrus. Proses perubahan sel-sel parabasal menuju sel intermediet kemudian sel-sel superfisial dan sel-sel anucleate dapat dijelaskan sebagai berikut (Vilee, 1973):
1.     Bentuk bundar atau oval perlahan-perlahan akan berubah menjadi bentuk poligonal atau bentuk tidak beraturan.
2.     Ukuran nuklei yang besar secara perlahan-lahan akan mengecil, pada beberapa kasus nuklei mengalami kematian atau rusak secara bersamaan
3.     Ukuran sitoplasma akan lebih tipis daripada semula.
4.      diestrus
Adalah periode terakhir dalam siklus birahi yang paling panjang. Fase diestrus merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal dan pengaruh progesteron terhadap saluran reproduksi menjadi nyata. Pada sapi hal ini di mulai ketika konsentrasi progresteron darah meningkat dapat dideteksi dan diakhiri dengan regresi corpus luteum. Fase ini disebut juga fase persiapan uterus untuk kehamilan. Fase ini merupakan fase yang terpanjang di dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan atau tidak, CL akan berkembang dengan sendirinya menjadi organ yang fungsional yang menghasilkan sejumlah progesterone, alat reproduksi praktis ”tidak aktif” selama periode ini karena di bawah pengaruh hormon progesteron dari korpus luteum. Jika telur yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akan dijaga dari kehamilan. Jika telur yang tidak dibuahi sampai ke uterus maka CL akan berfungsi hanya beberapa hari setelah itu maka CL akan meluruh dan akan masuk siklus estrus yang baru.
Perubahan selama diestrus :
a. periode persiapan uterus untuk suatu kebuntingan
b. Endometrium menebal dan kelenjar-kelenjar uterusnya hypertropi
c. Cervix tertutup
d. Vagina dan vulva sedikir berlendir
e. Mukosa vagina pucat
f. Uterus lemas
g. Akhir periode diestrus endometrium dan kelenjar uterus mengalami atropi kembali
h. Periode diestrus disebut pula periode istrahat dari alat kelamin
Pada fase ini ovarium didominasi oleh korpus luteum yang teraba dengan bentuk permukaan yang tidak rata, menonjol keluar serta konsistensinya agak keras dari korpus luteum pada fase metestrus. Korpus luteum ini tetap sampai hari ke 17 atau 18 dari siklus estrus. Uterus pada fase ini dalam keadaan relak dan servik dalam kondisi mengalami kontriksi. Fase diestrus biasanya diikuti pertumbuhan folikel pertama tapi akhirnya mengalami atresia sedangkan pertumbuhan folikel kedua nantinya akan mengalami ovulasi.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada ovarium selama siklus estrus :
1.     Selama tidak ada aktifitas seksual (diestrus) terlihat terlihat folikel kecil-kecil (folicle primer)
2.     Sebelum estrus folikel_folikel ini akan menjkadi besar tetapi akhirnya hanya bsatu yang berisi ovum matang.
3.     Folikel yangh berisi ovum matang ini akan pecah, telur keluar (ovulasi), saat disebut waktu estrus.
4.     Kalau telur dibuahi, korpus luteum akan dipertahankan selama kehamilan dan siklus berhenti sampai bayi lahir dan selesai disusui.
5.     Kalau telur tidak dibuahi, korpus luteum akan berdegenerasi, folikel baru akan tumbuh lagi, siklus diulangi.