Selasa, 30 April 2013

Pemerahan Pada Sapi Perah


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pemerahan merupakan kegiatan yang dinanti-nanti oleh peternak sapi perah. Teknik pemerahanpun berbeda-beda, yaitu mengunakan cara manual (tradisional) maupun mengunakan mesin (modern). Kedua teknik ini memiliki kelebihan maasing-masing. Untuk segi kualitas, teknik mengunakan mesinlah yang paling baik.
 Hasil perahan mengunakan mesin lebih higienis, bersih, dan cepat. Kandungan bakterinya (total plate count/TPC) hanya berkisaran 250 ribu/cc, jauh dari ambang batas yang diperbolehkan SNI, yaitu di bawah 1 juta. Bila mengunakan cara manual, nilai TPC-nya berkisar 3 juta/cc.

Harga mesin ini memang mahal, tetapi mesin perah merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatnya kualitas susu. Jika pemerahan dilakukan secara manual, kebersihan tangan si pemerah turut berperan pada kesterilan susu. Belum lagi mood pemerah juga mempengaruhi waktu dan produktivitas.
Mesin pemerah susu adalah suatu mesin semi otomatis untuk memerah susu pada sapi. Mesin ini tidak dibuat hanya untuk satu ekor sapi, tapi kebanyakan satu rangkaian komponen alat itu dibuat untuk memerah 200 ekor sapi per jam. Sistem dari rangkaian alat tersebut adalah terdiri dari pompa vacum, regulator (alat pengukur), dan pulsator. Bersama-sama sistem tersebut bekerja untuk mengalirkan susu ke dalam suatu saluran untuk yang selanjutnya akan diolah menjadi banyak produk. Di pasaran beragam tipe mesin pemerah beredar, mulai kategori murah sampai mewah.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penilisan  makalah ini yaitu :
-  Agar kita mengetahui keungulan dan kekurangan dari beberapa system pemerahan
- Untuk mengetahui beberapa system pemerahan yang bisa diterapkan dalam peternakan sapi perah

1.3 Manfaat
 Dengan selesainya makalah ini diharapkan pembaca mengetahui system pemerahan yang baik, supaya dapat menjamin kualitas produk susu yang dihasilkan. Dengan terjaganya keamanan produk susu, masyarakatpun tidak kuatir dengan susu yang berbahaya bagi kesehatan.
























BAB II
EMBAHASAN

2.1. Sejarah
Pada tahun 1820, pertama kali ditemukan peralatan yang sangat sederhana
untuk mengeluarkan susu dari ambing. Alat tersebut tampak seperti pada gambar
berikut ini (Gambar. 1)
 











Gambar 1. Peralatan Sederhana Untuk Mengeluarkan Susu Dari Ambing.

Selanjutnya mesin perah yang pertama diciptakan dan dikeluarkan pada tahun 1850 oleh seorang petani dari Amerika yang bemama Anna Baldwin. Alat tersebut berbentuk sebuah pompa yang dihubungkan dengan pipa yang berujung pada sebuah mangkok yang berlubang empat untuk menyedot susu dari keempat puting. Di ujung lain digantungkan sebuah ember guna menampung susu hasil pemerahan. (Gambar. 2)




 







Gambar 2. Mesin perah tangan buatan Anna Baldwin

Seiring dengan perkembangan teknologi mesin perah pertama ini terus dikembangkan sehingga akhirnya tercipta mesin perah modern seperti yang dijumpai sekarang.

2.2. Mesin Perah Modern
Metode pemerahan dengan mesin perah modem dewasa ini menggunakan cara mekanisasi, artinya pemerahan memakai mesin sebagai pengganti tangan. Dalam peternakan sapi perah, mesin perah dibedakan menjadi 3 yaitu system ember (Bucket system), sistem pipa (Pipe line system) dan Sistem Bangsal Pemerahan (Milking parlor system).

2.2.1. Sistem ember (Bucket system)
Sistem ember adalah salah satu sistem pemerahan yang menggunakan mesin sebagai pengganti tangan yang dapat dipindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain. Sitem ini cocok digunakan untuk petemak kecil. Susu hasil perahan dari sistem ini ditampung di ember yang terdapat di setiap mesin. Setelah itu, susu hasil perahan setiap ekor sapi ditakar terlebih dahulu, kemudian dituang di tangki pendingin.
Pemerahan dengan sisitem ini dapat diterapkan di Indonesia pada peternak sapi perah yang jumlah sapi induk kurang dari 10 ekor atau pada peternak sapi perah rakyat yang kandangnya berkelompok. Pemerahan dengan sistem ember ini perlu dirintis di Indonesia dengan harapan dapat menekan kandungan bakteri dalam susu.
Mesin perah sistem ember ini bagian-bagianya terdiri dari:
1.      sebuah motor pembangkit vakum,
2.      pipa vakum,
3.      selang karet vakum,
4.       pulsator,
5.       ember penampung susu,
6.       pengatur pulsasi,
7.       tabung perah (teat cup) yang terbuat dari logam tahan karat dan karet inflasi di dalam tabung perah,
8.      selang susu

(Gambar. 3)

 




     




Gambar 3. Mesin Perah Sistem Ember (Bucket system)

Mesin perah sistem ember ini bekerja atas dasar perbedaan tekanan udara yang dibangkitkan oleh motor pembangkit vakum atau pompa vakum. Perbedaan tekanan udara ini menyebabkan karet inflasi di dalam tabung perah kembang kempis memijat puting. Pada waktu udara masuk ke dalam tabung perah, yaitu diantara tabung perah dan karet inflasi, karet inflasi mengempis. Peristiwa ini disebut fase istirahal.
Selanjutnya udara di dalam tabung menjadi hampa udara. Oleh karena itu di dalam tabung dan karet inflasi kompa (tidak ada tekanan) sedangkan di dalam ambing bertekanan, maka susu terdorong keluar/tersedot. Peristiwa ini disebut fase perah. Demikian seterusnya, fase perah dan fase istirahat datang silih berganti.
Supaya fase perah dan fase instirahat dapat berlangsung secara bergantian, maka mesin perah dilengkapi dengan pulsator yang berfungsi mengatur tekanan udara antara keadaan bertekanan dan hampa udara. Dengan kala lain, pulsator mengatur fase istirahat dan fase perah. Bila klep atau tombol vakum ditutup maka udara dari luar masuk dan berhentilah kegiatan pemerahan dan karet inflasi  kembali berbentuk semula. Kedudukan karet inflasi dalam fase perah dan fase istirahat dapat dilihat pada gambar berikut ini (Gambar. 4) dan Cara pemasangan tabung perah (teat cups) pada puting (Gambar. 5)

 










Gambar 4. Penampang Tabung Perah.



Gambar 5. Urut-urutan Cara Memasang Tabung Perah (Teat Cups) pada Puting.

Proses mekanik pemerahan ini adalah: perah-istirahat-perah-istirahat-perah dan seterusnya yang terus berlangsung hingga ambing kosong. Lamanya waktu fase perah dan fase istirahat tergantung dari apa yang disebut rasio pulsasi. Rasio pulsasi adalah perbandingan antara fase perah dan fase istirahat. Untuk mesin perah sistem ember/baket, rasio pulsasi 60:40 per satua waktu, artinya dalam satuan waktu-waktu fase pemerahan berlangsung 60 kali dan fase istirahat 40 kali per satuan waktu.
Laju pulsasi atau besar kecilnya pulsasi di atur oleh tombol pengatur pulsasi yang terletak di bawah keempat tabung perah. Laju pulsasi disetel sesuai dengan anjuran pabrik pembuat mesin, Meningkatkan laju pulsasi melebihi anjuran tidak akan mempercepat pemerahan, bahkan dapat menyebabkan lukaluka yang sering pada puting dan ambing.
Tekanan pada mesin perah disetel pada saat instalasi mesin perah di pasang. Tekanan yang terlalu lemah membuat tabung perah tidak dapat menempel pada puting. Sebaiknya sebelum menggunakan mesin ini dianjurkan untuk meminta bantuan teknisi untuk menyetel tekanan vakum dan pemeriksaan secara berkala.


2.2.2             Sistem Pipa ( Pipe line system)
Pada system ini, pemerahan langsung juga berada di dalam kandang dimana sapi yang akan diperah tetap terikat ditempatnya. Mesin perah dipindah dari sapi satu ke sapi berikutnya. Sedang susu hasil pemerahan langsung dialirkan ke dalam tangki pendingin melalui pipa tanpa berhubungan dengan udara luar. System pemerahan dengan system pipa ini dapat dilihat pada gambar 6.
 Ganbar 6. Pemerahan dengan Mesin Sistem Pipa Dilakukan di dalam Kandang


2.2.3. Sistem Bangsal Pemerahan (Milking parlor system)
Pemerahan berlangsung di suatu bangsal atau ruang khusus yang disiapkan untuk pemerahan. Di bangsal ini ditempatkan beberapa mesin perah. Setiap satu mesin  melayani seekor sapi. Sasu hasil pemerahan langsung ditampung di tangki pendingin (cooling unit) sesudah melalui tabung pengukur produksi yang terdapat pada setiap mesin. Sapi yang akan diperah digiring ke bangsal pemerah melalui suatu ternpat (holding area) yang luasnya terbatas dan sapi berdesakan. Di holding area sapi dibersihkan dengan sprayer dari segala arah (Gambar 7.), selanjutnya sapi satu per satu masuk bangsal (milking parlor)


Gambar 7. Pemerahan dengan Mesin Sistem Pipa Dilakukan di dalam Kandang.

Sistem bangsal perah (milking parlor system) mempeunyai bentuk yang bermacam-macam, antara lain:

a.       Sistem sirip ikan tunggal atau ganda (single/double heringbone milking, parlor) yang terlihat seperti pada Gambar 8. dan 9.







Gambar 8. Bangsal Perah Sistem Sirip Ikan Ganda.



Gambar 9. Bangsal Perah Sistem Sirip Ikan Ganda Beserta Peralatannya.

b.      Sistem sirip ikan berbentuk wajik (heringbone diamond shaped polygon milking parlor} Gambar 10. dan 11.


Gambar 10. Bangsal Perah berbentuk Wajik


Gambar 11. Bangsal Perah Berbentuk Wajik Beserta Kandang Lepas Free Stall Modern.

c.       Sistem komidi putar (rotary milking parlor) Gambar 12. dan 13

Gambar 12. Bangsal Perah Sistem Komidi Putar


Gambar 13. Bangsal Perah Sistem Komidi Putar Lengkap Dengan Peralatan


Gambar 14. Komponen Mesin Perah: 1) karet inflasi, 2) tabung perah (teat cup shell), 3) selang udara dari karet, 4) pulsator, 5) mangkok, 6) selang susu dari karet, 7)selang vakuni dari karet, 8) penggantimg alat pemerah.


2.3. Robot Pemerah
Selain alat tersebut diatas, akhir-akhir ini telah ditemukan alat atau mesin untuk memerah susu terbaru, yaitu robot pemerah susu. Seperti yang terdapat pada Kompas cyber media.com Kamis, 29 Desember 2005 yaitu para peternak sapi di Australia telah menggunakan robot tersebut untuk memerah susu ternaknya. Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan cara beternak yang lebih baik.
Mesin tersebut akan menggantikan pekerjaan peternak yang biasa memerah susu dua kali sehari dan berhasil memasang 200 hingga 300 cangkir setiap hari. Sedangkan sapi-sapi yang akan diperah akan mendatangi tempat pemerahan sesuai keinginannya sendiri begitu merasa tidak nyaman karena kelenjar susunya telah penuh.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
·         Mesin perah terbukti dapat meningkatkan produktifitas dan higienitas susu. Ini terbukti dengan meningkatnya hasil pemerahan sebesar 20% dari pada sebelum menggunakan mesin dan menurunya TPC mikroba dari 3x106 menjadi 2.5x105.
·         Mesin perah pertama kali ditemukan pada tahun 1850 oleh petani Amerika yang bemama Anna Baldwin setelah sebelumnya telah ditemukan alat yang lebih sederhana untuk memerah susu pada tahun 1820.
·         Mesin perah modern dibedakan menjadi 3 yaitu sistem ember (Bucket system), sistem pipa (Pipe line system) dan Sistem Bangsal Pemerahan (Milking parlor system).
-          Sistem ember adalah salah satu sistem pemerahan yang menggunakan mesin sebagai pengganti tangan yang dapat dipindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain untuk memerah susu.
-          Sistem pipa adalah sistem pemerahan langsung juga berada di dalam kandang dimana sapi yang yang akan diperah tetap terikat ditempatnya, kemudian susu hasil pemerahan dialirkan melalui pipa menuju tempat yang telah di sediakan.
-          Sistem bangsal adalah sistem pemerahan yang berlangsung di suatu bangsal atau ruang khusus yang disiapkan untuk pemerahan, dan di bangsal ini ditempatkan beberapa mesin perah. Setiap satu mesin melayani seekor sapi. Sistem bangsal mempunyai bentuk bermacam-macam antara lain: Sistem sirip ikan tunggal atau ganda, sistem sirip ikan wajik dan sistem komidi putar.

3.2 Saran
Untuk mendapatkan kualitas susu yang baik, peternak harus memperhatikan kebersihan alat-alat pemerahan. Alat atau mesin pemerah banyak beredar dipasaran peternak harus selektif untuk memilih mesin yang cocok pada usahanya, supaya pendapatan lebih meningkat dari pada biaya operasionalnya.

DAFTAR PUSTAKA

Budi, Usman, dkk. 2006. Buku Ajar Dasar Ternak Perah. http://ecourse.usu.ac.id/content/peternakan/dasar/textbook.pdf
Riyanto, Selamot. 2006. Dengan Mesin Perah Harga Susu Jadi Tinggi.Bandung:Primadona
Toeg, Peter. 2007. Milking Machine. http://www.madehow.com/ Volume -2/Milking-Machine.html
Wah. 2005. Robot Pemerah Susu. http://64.203.71.11/teknologi/news/
0512/29/161009.htm